Senin, 20 Februari 2012

TEKNOLOGI PENDIDIKAN ISLAM

M. IBNU ABDILLAH AS
PENGANTAR REVIEW

Review ini merupakan rangkuman dari buku aslinya SCHOOLING FOR TOMORROW LEARNING TO CHANGE : ICT IN SCHOOL Education And Skill yang diterbitkan oleh OECD (Organisation For Economic Co-Operation And Development) pada Tahun 2001. Secara singkat buku ini membicarakan tentang penggunaan TIK dalam sekolah serta peruabahan-perubahannya. Buku ini terdapat 7 Chapter, yang mana ketebalannya sampai 117 halaman.
Akan tetapi penulis review ini hanya akan merangkum secara singkat bagian dari buku ini yaitu pada (CHAPTER 2) tentang The Curriculum And Learner (Kurikulum dan Peserta Didik) sebanyak 18 halaman yaitu mulai dari halaman  19 – 36 pada buku aslinya.
Pada Chapter 2 ini secara umum membahas tentang kurikulum sekolah berbasis TIK dan implikasinya terhadap proses belajar mengajar dan peserta didik. Chapter ini mempunyai pokok bahasan sebanyak 6, yaitu sebagai berikut :
1. Policy Approaches Towards Ict In The Curriculum (Kebijakan Pendekatan TIK dalam Kurikulum )
2. Ict Brings New Depths To Learning (TIK Membawa Misi Baru Untuk Belajar)
3. Student – Centred Learning (Siswa Sebagai Pusat Belajar)
4. Student Assessment (Penilaian Siswa)
5. Ict Driving And Fasilitating Change (TIK Sebagai Penggerak & Fasilitas Perubahannya)
6. Digital Literacy – An Educational Policy Imperative (Keharusan Pemahaman Digital Dalam Kebijakan 
   Pendidikan)

Untuk lebih jelas tentang masing-masing sub bab di atas, maka akan kami jelaskan secara singkat pada sub bab masing-masing dan beserta dengan analisis yang beruhubungan dengan kurikulum yang berada di lembaga pendidikan.


PENDAHULUAN
Tehnologi computer yang telah terbukti sebagai alat ampuh dalam rekayasa segala bidang usaha manusia juga berpotensi merubah proses belajar mengajar. Tehnologi informasi yang mampu menyambung ke rumah-rumah dan tempat-tempat kerja mempertanyakan relevansi pengetahuan dan pendekatan tradisional yang mendominasi kurikulum saat ini. ICT  menuntut perlunya perubahan kurikulum dan sarana prasarana untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
TIK menyediakan sumberdaya lingkungan dan pendekatan pembelajaran yang akan mengubah proses belajar mengajar dengan dimensi yang signifikan. TIK sangat mendukung berbagai cara belajar, berpikir dan bekerja di seluruh kurikulum yang beragam, kreatif dan menarik.
Para pelajar mulai mengantisipasi keuntungan yang besar, yakni perlunya memiliki ketrampilan TIK untuk bekal masa depan. Akan lebih mudah mencari pekerjaan jika mempunyai ketrampilan yang dibutuhkan dunia saat ini. Dicontohkan, di daerah pertambangan batu bara terjadi banyak pengangguran akibat penutupan tambang. Kemudian didirikan sebuah pusat ketrampilan computer di sana. Maka orang-orang belajar bagaimana mengoperasikan computer dan menggunakan internet dan segala hal yang dibutuhkan dunia saat ini. Dengan begitu mereka telah banyak yang memperoleh pekerjaan baru.

1. POLICY APPROACHES TOWARDS ICT IN THE CURRICULUM
    (KEBIJAKAN PENDEKATAN  TIK DALAM KURIKULUM)
Pada kenyataannya telah banyak pemerintah yang mengadopsi program besar dengan memperkenalkan TIK dalam kurikulum sekolah. Pada bulan April 1999 menteri pendidikan Negara persemakmuran Australia sepakat bahwa TIK sebagai tujuan utama pendidikan abad 21. Lulusan sekolah harus faham TIK agar percaya diri, kreatif dan produktif. Ketrampilan yang diharapkan antara lain; ketrampilan analisis dan pemecahan masalah, mengkomunikasikan ide-ide, dan berkolaborasi dengan orang lain. Tujuannya adalah sekolah harus mampu mengembangkan sepenuhnya bakat dan kemampuan semua siswa
Pemerintah AS memiliki berbagai kebijakan pendidikan untuk menggunakan TIK dalam abad ke-21. Ia  "menawarkan siswa pengalaman yang tersedia di tempat lain" .mereka disimulasikan mampu menggunakan videodiscs, Internet, dan CD-ROM. Siswa terlihat memiliki keterampilan  pemecahan masalah yang lebih baik daripada dengan metode tradisional, mereka menjadi kompeten mengorganisir informasi yang kompleks, mengenali pola, menarik kesimpulan dan berkomunikasi temuan. Dengan kesadaran yang sama, Uni Eropa telah memulai rencana Europe 2002, yang akan berusaha untuk memastikan bahwa semua siswa melek digital pada saat mereka meninggalkan sekolah.
Pada bulan Juni 2000 Dewan Eropa ( pada Deklarasi Lisbon) meminta bahwa: Setiap warga negara harus dilengkapi dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup dan bekerja dalam masyarakat informasi baru. Negara anggota memastikan bahwa semua sekolah di Uni Eropa memiliki akses ke Internet dan sumber daya multimedia pada akhir 2001.Negara anggota memastikan bahwa semua guru yang dibutuhkan terampil dalam penggunaan Internet dan sumber daya multimedia pada akhir 2002.
Berbagai peraturan dibuat di negara-negara OECD untuk mempromosikan TIK di sekolah. Dengan memasukkan teknologi ke kurikulum mata pelajaran tertentu, seperti matematika dan fisika, humaniora terutama di daerah dengan pembangunan afinitas yang kuat dengan ICT, terutama desain teknologi dan studi bisnis. Prancis mulai menggunakan pendidikan ICT dengan subjek ilmiah - menggunakan alat ukur dan spread sheet - dan dengan laboratorium bahasa, namun sejalan dengan pengembangan kurikulum nasional, dan berkembang di semua mata pelajaran di semua tingkat .

Kesimpulan
Banyak Negara telah mengadopsi program besar untuk memperkenalkan TIK ke dalam kurikulum sekolah.sekolah. Hal ini menanggapi tuntutan dalam
TIK sebagai salah satu tujuan utama pendidikan pada abad ke-21
Siswa lulusan sekolah  harus memahami TIK dan aplikasinya di masyarakat sehingga mereka menjadi “percaya diri, kreatif dan produktif”.
Melalui TIK  diharapkan segera dicapai kapasitas dan ketrampilannya, guna analisis dan pemecahan masalah.
Tujuan umum kurikulum adalah sekolah harus mampu mengembanngkan sepenuhnya bakat dan kemampuan semua siswa.


2. ICT BRINGS NEW DEPTHS TO LEARNING
    (TIK MEMBAWA MISI BARU UNTUK BELAJAR)
Jaringan Mahasiswa Internasional bisa mengomentari pengalaman belajar mereka dengan melibatkan TIK. Mereka mengingatkan kita tentang mengapa pada beberapa situasi belajar berhasil dan yang lain tidak. Pengalaman mahasiswa pengguna TIK, bahwa alat - pengolah kata,
menyebar lembar dan grafis - yang digunakan di seluruh mata pelajaran, dengan CD-ROM untuk berbagai tujuan, apakah untuk subjek-spesifik atau ensiklopedik. CD-ROM dengan ukuran fisik kecil dan kapasitas besar sangat menarik untuk siswa karena:
Karena CD-ROM mudah dibawa, dan memungkinkan siswa untuk membawa banyak CD selama di sekolah, sedangkan jika mereka harus membawa buku beban mereka akan jauh lebih berat.
CD-ROM memegang sejumlah besar informasi, lebih nyaman daripada membawa buku. Setiap teks tertulis dapat berjalan untuk beberapa edisi atau volume, sehingga memakan waktu dan membosankan ketika mencoba untuk menemukan informasi yang relevan.
Ensiklopedi interaktif umumnya dipandang efektif dalam kelas, dan user-friendly, bahkan bagi mereka dengan pengalaman TIK sedikit. Mereka mengizinkan siswa untuk mengeksplorasi tanpa membutuhkan intervensi konstan oleh guru.
Apa keuntungan dari CD-ROM untuk pembelajaran para siswa? Siswa menyambut realitas yang lebih besar, dengan melihat guntingan pers, film peristiwa nasional penting termasuk pidato, simulasi animasi pawai dan perang, atau kunjungan ke situs arkeologi. Sebuah disk kompak, tentang sosial peradaban sebelumnya, organisasi politik dan ekonomi serta aspek budaya, seni dan agama. Hal ini merupakan cara yang menyenangkan untuk belajar . Dalam ilmu geografi, pendekatan multi-media dengan menampilkan sebuah atlas dunia untuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang situasi politik.
Karena penjelasan yang baik pada CD-ROM, guru tidak menghabiskan waktu untuk memperhatikan siswa, sehingga tersedia waktu untuk prioritas yang lain. Dalam sains dan matematika, siswa melihat keuntungan dalam menggambarkan konsep-konsep dasar fisik oleh animasi, dan melakukan eksperimen virtual untuk mengeksplorasi hukum-hukum gerak. Ia tidak menggantikan kebutuhan untuk pekerjaan laboratorium yang sebenarnya, tetapi menambahkan daya tarik, dan membuat lingkungan kelas yang menyenangkan di mana siswa dapat saling membantu. Karena perangkat lunak dapat memecahkan fungsi aljabar cepat dan akurat, siswa mengatakan mereka bebas untuk fokus pada pemahaman konsep daripada perhitungan berulang-ulang. Presentasi bergambar membuat fungsi tersebut lebih mudah dipahami.
Penggunaan CD-ROM tidak selamanya lancar. Dalam kelas biologi melaporkan, yang tersedia CD-ROM ditemukan sulit untuk digunakan dan tidak jelas dalam presentasinya. Guru berjuang dengan itu, tapi akhirnya kelas kembali ke metode yang lebih tradisional.

Kesimpulan
TIK berbasis materi pembelajaran bervariasi dalam cakupan subjek, kesesuaian urutan belajar dan ramah penggunaan, tetapi yang terpenting  ia sangat disukai dan dihargai oleh siswa.
Para pelajar menggunakan alat TIK seperti CD ROM atau mungkin alat penyimpan data dalam computer dalam pembelajaran mereka, sehingga tidak perlu membawa banyak buku atau resensi yang lain, karena materi mereka cukup tersimpan dalam CD ROM tersebut yang memuat sangat banyak data dan file.
Selain para peljarnya, para guru juga sangat memanfaatkan TIK dalam pembelajaran mereka, sehingga para guru tidak banyak banyak bicara atau menerangkan kepada siswanya.
TIK dapat melayani tujuan pendidikan dan metodologi yang berbeda, jauh melampaui kurikulum tradisional. Jika digunakan dengan bijaksana dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, bahasa dan komunikasi, pembelajaran kolaboratif, memahami dan menghormati orang lain.


3. STUDENT-CENTRED LEARNING
    (SISWA SEBAGAI PUSAT BELAJAR)
Para pendidik menangkap perubahan bahwa peserta didik telah mampu membangun pemahaman sendiri berdasarkan pengalaman masa lalunya. Pendekatan ini disebut kontruktivisme, dimana pemahaman peserta didik muncul melalui keterlibatan yang panjang terkait dengan ide-ide baru. Hal ini mengisyaratkan bahwa masalah yang kongkret mampu mengembangkan kapasitas seseorang untuk berpikir bagaimana dan kapan ia harus menggunakan ketrampilan yang dimiliki.
Membangun pengetahuan dengan cara demikian menjadi model kurikulum, dimana bahwa pembelajaran yang tepat mungkin dengan kegiatan praktek, kerja kelompok, pemecahan masalah, menulis reflektif dan tugas lain yang merangsang pemikiran.
Model pembelajaran ini sangat relevan di lingkungan berbasis TIK, dalam kaitannya untuk meningkatkan pemahaman, dan mendukung pengembangan keterampilan berpikir. Beberapa Fasilitas khusus TIK adalah untuk membentuk lingkungan yang lebih terbuka yang mendorong pembelajaran mandiri. Guru akan bekerja sama dengan rekan-rekan mereka untuk berbagi keahlian, fokus pada kegiatan dan kebutuhan siswa secara individual dan kelompok kecil. Pekerjaan kelas banyak yang telah dikembangkan menggunakan konten-perangkat lunak bebas, seperti kata-prosesor, spreadsheet, web-authoring tools dan paket presentasi, yang membentuk dasar aktivitas kreatif lintas-kurikuler. Keterlibatan siswa ditingkatkan di mana komputer terintegrasi dengan cara ini.
TIK dapat menopang kegiatan bagi peserta didik yang berbeda dalam satu kelas. Seorang guru dapat menggunakan perangkat lunak untuk memberikan kegiatan yang menantang untuk kelompok peserta didik, sehingga membebaskan waktu untuk bekerja secara lebih individual dengan siswa lain. Ini membawa kekayaan media, baik dalam bahan belajar dan kerja kreatif  dihasilkan oleh siswa itu sendiri. Nilai ini melampaui multi-media pembelajaran, dan dapat membantu untuk mengakomodasi perbedaan gaya belajar. Komputer dipandang sebagai imparsial dan mampu memberikan umpan balik pada kesalahan tanpa asosiasi negatif kritik guru.
Manfaat yang signifikan telah dirasakan dari penggunaan ICT oleh siswa dengan kebutuhan khusus. TIK telah memungkinkan anak dengan kesulitan visual dan fisik untuk membaca, menulis dan mengekspresikan diri. Dalam beberapa kasus teknologi telah memungkinkan anak-anak dengan kebutuhan khusus untuk menghadiri sekolah biasa. Kanada telah melihat manfaat bagi siswa dengan cacat intelektual dan belajar, mereka dengan visual dan gangguan pendengaran, dan mereka yang bahasa Inggris adalah bahasa kedua, pun juga sangat bermanfaat bagi siswa berbakat (Dewan Menteri Pendidikan, Kanada, 1999).

Kesimpulan
Pesrta didik mampu membangun pemahaman mereka sendiri (Kontruktivisme)
Keterlibatan peserta didik meningkat di lingkungan berbasis TIK, dengan bimbingan dan dukungan guru yang sesuai.
Kemampuan TIK merupakan pendukung pembelajaran mandiri bagi peserta didik


4. STUDENT ASSESSMENT
    (PENILAIAN SISWA)
TIK telah membawa perubahan mendalam pada dunia pendidikan, namun bagaimana implikasinya terhadap penilaian dan pengakuan bagi kinerja siswa? Voogt dan Odenthal (1999) telah mengusulkan serangkaian praktek yang muncul terkait dengan integrasi ICT dalam pendidikan, yang menyiratkan perubahan radikal dan menantang. Mereka melihat penekanan pada pengembangan ketrampilan lintas-disiplin sesuai dengan kehidupan nyata, dikembangkan dan terakreditasi melalui penilaian formatif dan sumatif siswa dengan berbagai cara, termasuk portofolio. Siswa secara pribadi menerima tanggung jawab lebih untuk belajar mandiri dan menilai, dalam proses mengembangkan keahlian.
Karena tujuan belajar dan prosedur yang berkaitan dengan penggunaan ICT menjadi bagian yang penting dari kurikulum, maka hal ini harus tercermin dalam prosedur penilaian. Pengujian kemampuan TIK dasar - seperti kemampuan untuk menggunakan spread sheet dengan cara sederhana - mungkin ditunjukkan dengan berbagai cara di seluruh kurikulum, atau dengan latihan praktis yang dirancang untuk tujuan tersebut.
Namun, akan sulit untuk menilai keterampilan TIK dan proses pada tingkat yang lebih canggih, kecuali melalui kegiatan yang realistis di mana mereka dapat ditampilkan. Sejauh TIK dipandang menjadi sesuatu yang berpengaruh pengaruh dan  bekerja di seluruh kurikulum, kehadirannya harus tercermin dalam prosedur penilaian pada tingkat yang sama.
Sifat dari setiap sistem penilaian memiliki pengaruh terhadap kurikulum, dan memiliki peran yang kuat dalam mendefinisikan nyata - yang berbeda dari yang dimaksudkan - kurikulum.
Adopsi TIK dalam pendidikan memerlukan prosedur penilaian yang berbeda dan dengan berbagai cara. Dalam proses pembelajaran, teknik pengujian TIK dapat menawarkan penilaian formatif yang cepat dan umpan balik, untuk mendorong motivasi dan merangsang self-directed learning. Untuk tujuan pengujian yang obyektif tertentu akan berguna, terutama jika diikuti dengan layar diskusi tentang pilihan yang ditawarkan, dengan jalan utama untuk guru bila diperlukan. Meskipun penilaian formatif telah lama diakui, namun sangat menuntut waktu guru. TIK membawa kemungkinan baru untuk perbaikan kekurangan ini.
Guru menyadari bahwa salah satu keuntungan besar dari teknologi ini adalah bahwa hal itu memberikan siswa umpan balik langsung pada kemajuan mereka. Hal ini memungkinkan siswa untuk menguji diri, memeriksa dan melihat apakah mereka telah menguasai keterampilan baru, atau memiliki pengetahuan yang diperlukan untuk beralih ke pekerjaan lain. Teknik-teknik tersebut mengajarkan siswa bahwa mereka memiliki kapasitas untuk memperbaiki. Umpan balik segera dapat memotivasi siswa yang mungkin memiliki minat sangat sedikit di sekolah. Siswa yang masuk ke dalam kebiasaan memeriksa belajar mereka sendiri, merupakan keterampilan penting pada saat semakin banyak orang yang diperlukan untuk mempertimbangkan seberapa siap mereka untuk bekerja. Siswa mengambil tanggung jawab lebih besar untuk menilai diri mereka sendiri, dan belajar menjadi lebih individual.

 Kesimpulan :
Apa yang dinilai di sekolah-sekolah dan bagaimana penilaian dilakukan merupakan pengaruh yang sangat kuat pada kurikulum.
Potensi TIK tidak akan terealisasi selama penilaian prestasi siswa pada mata pelajaran tunggal dilakukan dengan cara tes tertulis konvensional.
Adopsi TIK penyediaan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan pendidikan.
Nilai pada penilaian formatif – tentang kemajuan dan kesulitan siswa - sering diakui tetapi sedikit dipraktekkan.
TIK menawarkan jalan yang menjanjikan untuk penilaian formatif yang cepat serta umpan balik, untuk menyempurnakan strategi belajar dan mengajar.


5. ICT DRIVING AND FACILITATING CHANGE
    (TIK SEBAGAI PENGGERAK DAN FASILITAS PERUBAHAN)
Kurikulum dapat dicirikan sebagai spektrum mulai dari yang terbuka juga yang tertutup. Model tertutup (tradisional) menyajikan satu set aturan yang mahasiswa diwajibkan untuk belajar dan bereproduksi. Untuk model ini, dipandang sebagai yang paling relevan ketika mereka mengikuti kurikulum yang ditetapkan. Kurikulum mungkin telah dimodifikasi untuk memasukkan ICT, tapi ini terbatas pada keterampilan operasional dasar dan hanya sedikit melibatkan tantangan intelektual. Tidak semua aplikasi TIK berfungsi untuk mempromosikan berpikir tingkat tinggi, dan orang-orang yang mendorong belajar hafalan - berguna pada kesempatan untuk revisi atau konsolidasi - tidak akan memperluas cakupan untuk berpikir independen. Kita telah melihat contoh-contoh menarik dari transformasi radikal yang dibawa oleh TIK. Tetapi bisa dikatakan bahwa komputer yang digunakan di sekolah belum  menyiratkan perubahan tertentu dalam gaya mengajar.
Sekolah tampaknya merasa sangat sulit untuk benar-benar mengintegrasikan TIK ke dalam proses pengajaran. Sekitar 90% dari guru sekolah dasar memang menggunakan komputer selama pelajaran, tapi apa benar-benar telah berarti penggunaannya untuk individu siswa? Misalnya bagi mereka yang tertinggal, atau murid yang dengan cepat menyelesaikan tugas lainnya. Di sekolah menengah, sepertiga dari guru menggunakan komputer selama pelajaran mereka, khususnya untuk mata pelajaran seperti ilmu informasi, kejuruan yang berorientasi subyek dan matematika. Hal ini terbukti masih sulit untuk mengintegrasikan TIK ke dalam kegiatan sekolah. Belanda (2001a)
Mengapa terbukti sulit untuk mengintegrasikan TIK? Kurikulum tertutup tidak dapat dengan mudah merangkul perubahan radikal yang dibawa TIK. Dengan model kurikulum yang lebih terbuka, memungkinkan untuk fokus pada keterampilan yang dibutuhkan untuk membangun dan mengkomunikasikan pengetahuan. Aplikasi komunikasi di sini, kerangka kerja kreatif dan sumber informasi semua memiliki peran potensial. Di Swedia, di mana ICT terintegrasi di kurikulum, maka pembelajaran menjadi lebih mandiri.
Gambaran kegiatan yang diberikan oleh ICT dicontohkan oleh potensinya untuk mengembangkan keterampilan menulis. Bahkan pada dasarnya, menulis dengan pengolah kata, bukan di atas kertas akan lebih memotivasi bagi beberapa orang. Motivasi juga dapat berasal dari potensi untuk menciptakan "profesionalitas-pencari" dokumen, di mana produk akhir berkualitas tinggi bahkan untuk peserta didik dengan tulisan tangan yang buruk. Keuntungan lebih lanjut dapat dicapai melalui penggunaan on-line teknologi untuk memfasilitasi tugas-tugas lebih otentik dan menarik, seperti tulisan kepada peserta didik di sekolah atau negara lain, atau bekerja pada proyek-proyek kolaboratif substansial. Kegiatan On-line seperti ini mendapatkan kredibilitas dan keaslian, karena tujuan mereka dan hasil meluas melewati penulisan aktual teks.
Tapi ada lagi Pengolah kata yang menawarkan kemampuan kemudahan memodifikasi, memperbaiki dan mere-struktur dokumen. Teks menjadi entitas bisa berubah, untuk ditinjau kembali, diperluas dan direvisi sehingga mencerminkan pemahaman dan pengetahuan pribadi yang berkembang,. Selain itu, ada peningkatan penggunaan non-linier bentuk penulisan menggunakan sistem hypertext, dan multimedia, seperti gambar, suara dan video yang diintegrasikan ke dalam teks. Kebebasan seperti itu untuk memutuskan bagaimana topik atau ide-ide harus disajikan, menurut hubungan yang dirasakan, kemungkinan akan membuat proses berpikir kategoris dan analisis yang lebih eksplisit untuk siswa.
Contoh keterampilan menulis menggambarkan potensi yang besar dari TIK untuk memperluas pengalaman belajar. Sebagian besar potensi belum dimanfaatkan ketika TIK digunakan hanya untuk melakukan hal-hal tradisional dalam cara yang berbeda. Bahkan jika keterampilan baru dimasukkan dalam kurikulum, tidak akan ada waktu untuk mengembangkan mereka secara efektif kecuali ada pengurangan yang sesuai dalam jumlah detail faktual penetapan . kontradiksi akan sangat jelas jika penilaian konvensional dan prosedur sertifikasi, kembali penekanannya untuk mempertahankan aspirasi tradisional. Kontra bisa diubah untuk mendapatkan keuntungan. Bagaimanapun ICT  akan menjadi pengarah dan fasilitator yang baik bagi perubahan radikal di seluruh kurikulum.

Kesimpulan :
Kurikulum disini dibagi menjadi 2, yaitu :
Kurikulum tertutup
Kurikulum dimodifikasi untuk memasukkan TIK tetapi terbatas pada ketrampilan operasional dasar dan sedikit melibatkan tantangan intelektual
Sekolah merasa sangat sulit untuk benar-benar mengintegrasi TIK ke dalam proses pengajaran
Kurikulum terbuka
Memungkinkan untuk focus pada ketrampilan yang dibutuhkan untuk membangun dan mengkomunikasikan pengetahuan.


6. DIGITAL LITERACY – AN EDUCATIONAL POLICY IMPERATIVE
   (MELEK DIGITAL SEBUAH KEHARUSAN DALAM KEBIJAKAN PENDIDIKAN)
Pemahaman huruf pada tingkatan yang lebih tinggi telah menjadi pilihan masyarakat agar mereka mampu berpartisipasi lebih luas dalam kehidupan ekonomi,social, politik dan budaya. Keaksaraan adalah penting untuk komunikasi dan membuat keputusan. Keaksaraan juga merupakan alat untuk belajar efisien, terutama self-directed learning dari jenis yang diaktifkan oleh teknologi informasi dan komunikasi.
Akuisisi keterampilan TIK dasar adalah penting, meski hanya belajar mengoperasikan teknologi yang kegunaannya terbatas. Kebutuhannya adalah untuk memahami potensi teknologi, dan untuk memperoleh kepercayaan diri dan keterampilan dalam mengadopsi aplikasi yang sesuai. Ini berarti pengguna TIK menjadi kritis dan diskriminasi, serta percaya diri. Keaksaraan digital mencakup seperangkat keterampilan canggih yang telah merevolusi tempat kerja dan kehidupan masyarakat, dan semakin diperlukan untuk keterlibatan penuh dalam masyarakat.
Menggunakan TIK untuk memperkaya kurikulum di sekolah setidaknya ada dua cara yang mendasar. Yang pertama sebagai peningkatan di hampir setiap subyek dan kegiatan, melalui bank sumber daya, simulasi, urutan pembelajaran, aktivitas kolaboratif dan sebagainya. Ini memiliki potensi sendiri untuk mengubah lingkungan belajar yang lebih inovasi sampai sekarang. Yang kedua, namun lebih radikal, adalah mengejar keaksaraan digital dalam dirinya sendiri, dimana individu menjadi diberdayakan sebagai pelajar yang selektif dan mandiri.

Kesimpulan :
TIK terintegrasi di mata pelajaran sekolah dan memiliki potensi untuk mengubah kegiatan dan memperkaya lingkungan belajar lebih inovasi
Keaksaraan digital mengacu pada satu set kompetensi canggih meliputi kehidupan tempat kerja, masyarakat dan sosial.
Ada keuntungan dalam penggunaan program tambahan sekolah melek digital, di samping ekstra-kurikuler TIK, guna meningkatkan keterampilan dan memperkuat fondasi untuk belajar seumur hidup.


ANALISIS
Teknologi Informasi dan Komunikasi atau biasa disebut TIK, memang sudah mulai masuk dalam lembaga pendidikan sekitar mulai tahun 2007/2008. TIK masuk dalam mata pelajaran mulai dari tingkat sekolah dasar sampai Sekolah Menengah Atas. Karena termasuk mata pelajaran yang baru maka banyak lembaga pendidikan yang kurang memahami tentang TIK serta tidak adanya pendidik atau guru yang focus mengajar tenmtang TIK.
Sekarang pelajaran TIK sudah merambah ke seluruh lembaga pendidikan dan sekarang hampir semua lembaga pendidikan terdapat computer atau internet. Bahkan asnak sekolah dasarpun sekarang sudah banyak yang bias tentang computer dan internet. Bahkan sekarang computer bukan termasuk barang mewah lagi.,
Dengan adanya TIK dalam pembelajaran mempermudah para pendidik dalam mendidik dan peserta didik dalam mendapatkan pendidikan. TIK sangat membantu dalam proses pembelajaran di lembaga pendidikan.
Dihubungkan dengan buku ini terutama pada latihan 2 (Chapter 2) yaitu tentang TIK dihubungkan kurikulum dan peserta didik. Kurikulum Indonesia sudah melai memasukkan TIK dalam mata pelajaran di lembaga pendidkan. Walaupun masih belum maksimal dimanfaatkannya akan tetapi sedikit demi sedikit ilmu tentang TIK mulai menyebar sampai ke desa.
Dengan adanya TIK pula peserta didik akan semakin aktif dalam belajar karena mereka dapat mengkontruksikan diri mereka sendiri sehingga mendapatkan ilmu yang lebih banyak yang tidak di dapat hanya dari gurunya saja, akan tetapi mereka mencari sendiri ilmu tersebut. Selain itu TIK sebagai penggerak para peserta didik untuk lebih menjadi semangat dan produktif dalam belajar.
Selain dalam peserta didik, TIK juga sangat membantu pendidik dalam proses pengajaran, sehingga ,menjadi lebih efektif dan efisien. Para pendidki dengan adanya TIK menjadi mudah dalam memberi nilai mendata anak didikinya. Selain pendidik, TIK juga sangat membantu tenaga kependidikan untuk menyelesaikan laporan atau membuat data-data yang lain yang berhubungan dengan data peserta didik atau lembaga pendidikan.
Dengan adanya kebijakan pendidikan tentang TIK  ini, diharapkan semua kalangan akan mampu mengetahui dan memahami kemanfaatan TIK. Seperti terbukti pemerintah saat ini sudah mulai mendata peserta didik dengan program computer on line, yaitu tentang NISN (nomer Induk Siswa Nasional). Selain itu banyak sekali program-program pemerintah yang memanfaatkan TIK untuk mempercepat pendataan dan pengakutan data,. Mulai dari NISN juga sampai data UAN (Ujian Akhir Nasinal).
Pemerintah juga memanfaatkan TIK tidak hanya bagi para peserta didik tapi juga para pendidik dan tenaga kependidikan seperti dengan adanya NUPTK danlain sebagainya.
Tujuan umum pemerintah memberikan kebikan pendidikan tentang TIK dalam kurikulum lembaga pendidikan yaitu memasyarakatkan TIK sehingga semua orang dari mulai kecil sampai dewasa akan mengetahui dan memahami serta dapat memanfaatkan Teknologi informasi dan Komunikasi ini.





THE CURRICULUM AND THE LEARNER
(KURIKULUM DAN PESERTA DIDIK)
CHAPTER 2

REVIEW
Buku asli “Schooling For Tomorrow Learning
To Change: ICT In School”

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
UAS Mata Kuliah 
”Tehnologi Pendidkan Islam”

Dosen Pengampu:
Dr. As’aril Muhajir, M. Ag




Disusun Oleh :
M. Ibnu Abdillah As (2841104045)
Kelas D smstr III

PENDIDIKAN ISLAM
PROGRAM PASCA SARJANA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) TULUNGAGUNG
PEBRUARI 2012

1 komentar: